Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Lucu Humor Gokil

Cerpen Lucu Humor Gokil. Semua ada di sini bagaikan tempat belanja one stop shoping pokoknya semua ada dan semua gokil. Tidak percaya? Silakan baca sendiri kalau tidak lucu unag kembali. Hehehhe pokonya dijamin lucu dan gokil dah.

Cerpen lucu dan cerita gokil memang tidak enak kalau terlalu panjang, makanya harus berbentuk cerita humor dan gokil yang singkat dan padat, tetapi tidak merayap, kalau merayap sih itu kemacetan ibu kota yang lebih kejam daripada ibu tiri? Iya kan sob?

Makanya saya sendiri tidak betah tinggal di ibu kota Jakarta, bar kata semua ada, tapi susah jalannya karena macet. Kumpulan cerpen lucu gokil dan lucu ini dihimpun dari berbagai perhimpunan, pokoknya hunting sana sini, semua untuk sobat setia.

Cerpen Lucu & Gokil 1 - Salah Nurunin Resleting


Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”

Cerpen Lucu & Gokil 2 - Pengorbanan Menjemput Adik


Hari sudah mulai gelap, aku rasa, ku harus menjemput adikku di rumah paman, sebenarnya aku baru ke-2 kalinya ke rumah pamanku, aku rasa yang pertama sejak aku masih di dalam kandungan. Hari terus menggelap aku menaikan kecepatan sepedahku, dan akhirnya aku sampai, tapi sebenarnya aku sampai di hutan bukan rumah pamanku, aku kebingungan, kemana arah yang benar.
Di dalam hutan yang sunyi, sepi, aku tetap harus berjalan dan kemudian aku melihat sebuah lampu, yang sepertinya itu lampu mobil seseorang, kemudian aku mendekatinya dan ingin menumpang.
“pak, pak, tolong berhenti pak!” seruku.
“Ngiiittt…” (suara rem mobil si bapak itu)
“ada apa dek?” tanya supir mobil tersebut.
“pak, boleh saya numpang ikut mobil bapak?”
“tapi ada syaratnya dek!”
“apa pak?”
“tapi jagain ayam-ayam saya ya!”
“siap pak, akan saya laksanakan!”
Dan akhirnya aku menyesal karena menuruti syarat supir tersebut, aku duduk di gerbong belakang mobil yang isinya ayam semua, dan akhirnya aku sampai di depan rumah pamanku, tapi aku tidak langsung menuju rumah pamanku, aku mencari-cari mesjid, dan akhirnya aku ketemu mesjid yang jaraknya lumayan dekat dari rumah pamanku dan akhirnya aku langsung menuju tempat wudhu mensjid tersebut, bukanya aku ingin wudhu lalu sholat, tetapi aku ingin mencuci tubuhku yang dipenuhi kotoran ayam.
Akhirnya tubuhku sudah agak bersih, tinggal di bagian celanaku, lalu aku melihat keluar untuk melihat, ada orang atau tidak, lalu celanaku aku buka, lalu aku taruh, dan aku kaget karena ada suara orang adzan isya, aku langsung mencari-cari celanaku, aku lupa dimana aku menaruh celanaku, aku panik, dan tiba-tiba ada suara bapak-bapak yang akan menuju ke tempat wudhu, aku tambah panik, lalu aku nekad memanjat tembok tempat whudu tersebut, ternyata usahaku gatot (gagal total) celana dalamku tersangkut di paku, lalu aku tidak jadi lompat keluar, lalu aku masuk lagi ke dalam untuk melepaskan paku dari celana dalamku.
Ternyata aku salah perhitungan, celana dalamku tersangkut paku yang tingginya sampai satu meter, otomatis aku bergelantungan di atas tempat whudu, dan tiba-tiba bapak-bapak tersebut datang, bapak-bapak tersebut kaget sekali melihatku, lalu mereka keluar lagi, disana aku lega sekali, ternyata aku salah lagi, bapak-bapak itu malah membawa sapu dan ingin memukulku yang disangka aku orang gila, aku langsung memanjat kembali dan kabur ke rumah paman dengan menggunakan celana dalam yang robeknya sangat besar.

Cerpen Lucu & Gokil 3 - Anak Kecil Lagi…?



Hari minggu yang cerah. Waktunya bangun pagi, gosok gigi, mandi terus sholat subuh. Kebetulan hari ini sarapan lebih pagi daripada biasanya dengan menu nasi goreng plus telur ceplok.. hehe
“Anak mama yang manis jaga rumah ya, nanti ke pasar beli ikan dan bereskan rumah. Mama hari ini sibuk biasa job,” ucap mama mencium keningku setelah sarapan selesai lalu segera berangkat ke tempat bibi Nisa berbisnis kue kering.
“Mama apaan. Anak mama ini memang manis tapi jangan dianggap kaya anak kecil terus dong. Udah gede nih,” ucapku sebal dengan sikap mama padaku.
Mama hanya berlalu sambil tersenyum. “Iya anak mama yang katanya udah gede,” ucap mama lagi.

“Mama…” What.. ke pasar beli ikan, kalau beres-beres rumah nyapu dan ngepel sudah biasa hari minggu tapi kalau beli ikan biasanya dengan dampingan mama. Ya gak apa-apa lah demi mama.
Motor sudah siap di depan rumah karena ayahku rajin banget mengeluarkan motor dari rumah seakan mendukung aku untuk cepat-cepat berangkat ke pasar. “Padahal sudah mandi pagi, manis manis gini,” gumamku sambil tersenyum sendiri. Dengan baju santai karena tujuannya ke pasar dan gak lupa pakai kerudung langsung tancap gas.
Suasana pasar sudah ramai maklum jam sudah menunjuk angka setengah sembilan, dan pastinya ini sudah kesiangan kalau ke pasar. “Heeemmm.. ikan lautnya sudah tinggal sedikit. Beli apa ya yang enak,” gumamku sambil mataku melanglang buana kesana kemari mencari incaran ikan yang enak.
“Bibi, ikannya sekilo dong,” ucapku pada penjual ikan gabus. Bibinya lagi sibuk menimbang ikan pesanan pelanggan lain, jadi nunggu sebentar its okey lah.
“Ini dek ikannya,” kata bibi itu memasukkan ikan ke dalam kantong plastik. Aku segera membayar ikan tadi.
Aku berjalan-jalan sebentar sambil mengulur waktu supaya agak lamaan sedikit. Kulihat sekeliling sesuatu yang ku cari gak kelihatan. Sampai di sebuah lapak bibi penjual telur. “Telurnya dek 1500 satu,” tawar bibi itu. Tau aja kalau mata ini kesana kemari mencari telur. “Baru lo dek, dipilih sendiri mumpung tinggal sedikit.” Bibi ini nyambar aja dengan seribu jurus rayuan supaya aku tertarik.
“Ini bik 5 butir, eh sekalian 6 aja deh supaya uangnya gak susah. Sembilan ribu kan,” ucapku sembari membayar sedangkan bibi itu membungkus telur tadi.
“Adik masih sekolah ya?” tanya bibi itu.

“ehh iya bi,” jawabku mengiyakan karena kaget, padahal sih aku sudah gak sekolah tapi sudah kuliah.
“Sekolah di SMP sini ya dek?” tanya bibi itu lagi dengan wajah meyakinkan.
“ehmm bibi ini saya sudah lulus bi,” jawabku langsung dengan senyumku.
“Mari bi,” sambungku dan meninggalkan bibi itu dengan wajahku yang heran.
Masih saja aku dianggap sekolah, kalau anak SMA mending, ini di sangka anak SMP. Jadi sama siapapun dan di manapun baik itu mama sendiri atau bibi-bibi di pasar tetap aja aku gak dianggap gede, tetap anak kecil lagi. Masih imut-imut mungkin.. hehehe

Cerpen Lucu & Gokil 4 - Cerpen Lucu: Tukang Mie Ayam Main Facebook



Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang mie ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik masyuk di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk mengangkutnya.

Karena penasaran, diriku pun bertanya:
"Mas Jason (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya "Son..mie ayamnya siji maning sooon.."), sedang apa kok asik bener di pojokan?"

"Eh mas ganteng...( satu hal yang aku suka dari Jason adalah : Orangnya suka
bicara Jujur!), ini mas, lagi update status!!..." jawab Mas Jason.

***WADEZIG!!!

"Weehhh... njenengan fesbukan juga to??" tanyaku heran.

"Ya iyalah mas... hareee geneee ga fesbukan?! Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk, kata pak Hermawan Kertajaya kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mass." jawabnya lagi dengan penuh keyakinan.

***GLEK!!
Gw yang sering naik Kereta ke Jawa aja gak tau kalo ada yg namanya Hermawan Kereta Jaya


"Emang mas statusnya apa?" tanyaku penasaran.

"Nih mas aku bacain:
Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan...takutnya anda obesitas...segera saya tunggu di gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi. Mie Ayam Jason: Melayani dengan Hati... ampela, usus dan jeroan ayam lainnya." sambil menunjukan handphone-nya.

***GUBRAK!!
Dua kosong untuk mas jason. Gw yg uda lama fesbukan aja ga bisa bikin status se--atraktif dia.

Tapi ada yg aneh pas kulirik ke handphone  yang dia pake. Aku kira handphone-nya blackberry atau minimal nokia seri baru yang uda bisa pake internetan. Selidik punya selidik, ternyata...handphone-nya lawas bin jadul. HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM.

"Mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (bahasa halusnya henpon lawas). Gimana caranya?? tanyaku bingung.

"Owwh.. gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim ke Tri.” jawab dia datar.

"Ohh.. mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?" tanyaku lagi.

"Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati. Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya. Lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali...murah to??" jawabnya sambil cengengesan.

Mendadak kepalaku pusing, bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga. Aku limbung mendengar jawaban SPEKTAKULER dari Mas Jason...BRUK!!

Cerpen Lucu & Gokil 5 - Telpon Iseng


Telepon berdering di kantor pusat FBI.
"Halo?"
"Halo, apakah ini FBI?"
"Ya. Apa yang Anda inginkan?"
"Saya menelepon untuk melaporkan tetangga saya Adrian Thibodeaux. Dia memiliki narkoba yang disembunyikan di dalam kayu bakarnya!"
"Terima kasih banyak untuk informasinya, Pak."
Hari berikutnya, para agen FBI turun di rumah Thibodeaux. Mereka mencari kayu bakar di gudang. Menggunakan kapak, mereka membelah setiap potong kayu, tetapi tidak menemukan narkoba. Mereka meminta maaf kepada Thibodeaux dan pergi.
Telepon berdering di rumah Thibodeaux.
"Hei, Adrian! Apakah FBI datang?"
"Yeah!"
"Apakah mereka memotong kayu bakar Anda?"
"Yap"
"Bagus, sekarang giliran Anda untuk menelepon, saya perlu taman saya untuk dicangkuli."
gimana?

Cerpen Lucu & Gokil 6 - Si Jono


Iteung baru saja di terima sebagai guru bimbingan konseling di sebuah sekolah.

Suatu hari dia melihat si Jono berdiri sendirian di pinggir lapangan belakang sekolah, sementara ada murid yang lain sedang asyik bermain bola di tengah lapangan.

Karena merasa kasihan, Item mendekat dan menyapa dengan ramah. "Hai Jono, bolehkah Bu Guru menemani kamu?"

"Iya, boleh Bu", Jono menjawab. Tapi pandangan mata anak itu masih tertuju pada teman-temannya di tengah lapangan.

"Ah, anak ini kasihan sekali.. Pasti dia ingin ikut bermain", pikir Iteung.

Sebagai guru bimbingan konseling yang baik, Iteung ingin tahu masalah apa yang membuat Jono menyendiri seperti itu.

Item pun bertanya, "Kenapa kamu berdiri di sini sendirian, jono?"

Jono menjawab "Saya sedang jadi kiper, Bu."

Iteung.... @#$%?_&^(/???)^_^

Cerpen Lucu & Gokil 7 - Larangan Ketika Tidur


Tidur merupakan salah satu cara istrihat yang paling baik dan maksimal. Sebagian besar anggota tubuh akan beristirahat ketika tidur. Kekurangan tidur bisa berbahaya bagi kesehatan. Tidur yang cukup akan membuat tubuh menjadi segar kembali dan bersiap untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari pada keesokan harinya. Namun tidur dengan cara yang salah juga bisa berakibat fatal dan menimbulkan penyakit. Inilah larangan-larangan ketika tidur yang wajib diketahui oleh semua orang.

1. Jangan tidur memakai jam tangan
Sebagaian besar tidak mengetahui, jam tangan menandung gelombang radioaktif, meskipun tak banyak tapi jika keadaan ini berlangsung terus-menurus akan berbahaya bagi tubuh.

2. Jangan tidur memakai bh
Menurut hasil temuan para ahli dari amerika, bahwa memakai bh diatas 12 jam disinyalir berpeluang besas mengakibatkan kanker payudara.

3. Jangan meletakkan HP diranjang ketika tidur
Usahakan untuk menaruh hp jauh dari tempat tidur karena gelombang radioaktif yang terpancar dari HP bisa membayakan dan merusak system syaraf manusia.

4. Jangan tidur memakai kosmetik
Bersihkan kosmetik saat hendak tidur karena pemakaian kosmetik ketika tidur dapat menyumbat pori-pori wajah dan menimbulkan masalah kulit.

5. Jangan tidur dengan istri orang
Jangan-jangan anda tidak bakalan bangun lagi (karena dibunuh suaminya)

6. Jangan coba-coba jadi polisi tidur, apalagi di jalan tol
Pikirkan sendiri.. tanya kenapa?

Cerpen Lucu & Gokil 8 - Seorang Profesor


Profesor Carter berjalan kaki mengunjungi rumah seorang temannya yang terletak di ujung jalan. Setelah makan malam dan bermain catur, dia berpamitan hendak pulang. Tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan angin bertiup sangat kencang.

"Jangan pulang dulu, hujan sangat deras dan udara sangat dingin juga. Menginap saja di sini!," cegah temannya. Sang Profesor segera menyetujui tawaran tersebut. Maka temannya itu masuk ke dalam rumah dan menyuruh istrinya untuk menyiapkan tempat tidur.

Ketika dia keluar lagi ke ruang tamu, ternyata Profesor itu sudah tidak ada. Dia dan istrinya mencari-cari ke segala sudut rumah, tetapi tidak menemukan Profesor.

Tiba-tiba terdengar orang membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Profesor Carter! Darimana saja engkau?" seru temannya.
"Ya? aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil baju tidurku," jawab Profesor.

Cerpen Lucu & Gokil 9 – Naik Lift


Icha adalah salah satu karyawan hotel berbintang lima di Surabaya. Suatu hari dia mendapat telepon dari Fitri, teman masa kecilnya dan merekapun terlarut dalam obrolan hangat. Setelah beberapa lama mengobrol, mereka mempunyai ide untuk bertatap muka secara langsung guna melepas kerinduan diantara mereka. Karena Icha sangat sibuk dengan pekerjaanya dan tak bis meninggalkannya sedetikpun, mereka memutuskan untuk bertemu di tempat Icha bekerja yaitu di hotel Saturnus lantai 10 blok 01.

Singkat cerita, Fitri menuju hotel Saturnus. Sesampainya di lantai satu, Fitri kembali menelepon Icha.

Fitri : Hallo... Cha... sekarang aku sudah berada di lantai satu, tolong jemput aku yach!

Icha : Kamu langsung naik aja ke lantai sepuluh, liftnya disebelah resepsionis.

Fitri : Aku gak berani naik sendirian, aku kan orang asing di hotel ini, entar aku dikira orang jahat lagi!. Jemput aku dong, please...

Icha : Ya... okelah!. Tunggu bentar, jangan kemana-mana!.

Setelah beberapa saat menunggu, batang hidung Icha muncul juga dan Icha mengajak temannya itu untuk naik ke lantai sepuluh.

Icha : Aku heran sama kamu sekarang!.

Fitri : Emang kenapa dengan aku Cha?.

Icha : Dulu, waktu di sekolah, kamu kan cewek paling pemberani diantara yang lain, sampai-sampai kamu dijuluki cewek superman. Kok sekarang mau nemui aku aja minta dijemput segala!.

Fitri : (sambil berbisik dan sedikit menahan tawa), Jujur aja Cha..., sebenarnya aku itu gak tau cara menggunakan lift...!.

Icha : Hah....!!!???

Cerpen Lucu & Gokil 10 - Cerpen Lucu: Lo yang Berbuat, Gue yang Tanggung Jawab


Gue suka gedek sendiri kalo make modem yang murahan. Sebenernya sih nggak murahan juga, gue ngisi 50 perbulan lho dengan paket 1 giga. Si modem, waktu ditancepin di lobang USB (bukan lobang yang lain ya? :D) sinyal awalnya HDSPA ada empat strip. Hati seneng dong? Begitu gue buka Mozilla sinyal awal itu berubah jadi PA doang, empat stripnya raib tinggal satu. Bukan cuman koneksi lambat yang gue dapet, tapi problem loading page juga. Pengen gue banting rasanya si modem beserta laptop-laptopnya. Menghambat pekerjaan. Mana bisa survive kalo model internetan lemoy kayak gini? Asu! Sebel gue... Yasalam demi apa donlot file 3 mega aja lama bukan maen.

Yang bikin lebih kesel gini, waktu sinyal modem bener-bener HDSPA donlotnya lumayan cepet. Prosesnya sih terbilang cukup lancar jaya. 10%, 20%, 30%, 40%, sampe 96%... Yeahhh, dikit lagi, seru gue dalam hati. Cuman si sinyal itu ternyata nggak stabil. Dan sialnya, pas di 96% si sinyal HDSPA berubah menjadi sinyal PA dengan strip satu! Alih-alih donlotan gue sukses, malah failed. Ibarat kata, kayak orang onani tapi nggak dikeluarin. Pedihhh...

Kegagalan donlot ini sukses mood pagi gue merosot drastis.

"Lagi ngapain lu?" tiba-tiba suara seseorang nganggetin gue.

"Onani..." jawab gue cepet tapi ngasal, terkejut ditepuk pundaknya. Maklum, gue lagi tegang banget.

"Hah...?"

Gue tengok si empunya suara, ternyata Dedy, temen gue nyeles. " sori… donlot Ded." Gue nyengir kuda.

 “Ikut gue yuk…” kata Dedy.

“Kemana?”

“Nganter barang ke daerah Jakut. Urgent nih. Boss minta cepet. Tapi gue nggak ada temennya.”

Yah, demi menghilangkan kegedekan gue gara-gara donlotan, gue iyain ajakan Dedy. Itung-itung refreshing ngilangin stres di pagi hari.

***

Jalanan yang biasanya macet, hari ini, agak lancar-lancar jaya. Gue ngobrol ngalor-ngidul sama Dedy banyak hal. Gue baru tahu kalo bininya Dedy itu galak banget.

Lagi asik-asiknya ngobrol, tiba-tiba Dedy membanting setirnya dengan cepat ke kanan. Karena asik ngobrol Dedy nyetirnya miring-miring ke kiri. Duak. Bunyi benturan antara motor dan mobil. Gue tengok ke kiri, seorang pengemudi motor berhenti. Nggak jatuh sih. Jadi, gue cuekin ajah. Nggak bilang apa-apa sama si pengendara motor.

"Ded, gila lu, Ded," teriak gue ngeliat cara Dedy menyetir.

"Aduh, sori sori... gue nggak ngeliat ada motor tuh. Sompret…"

"Sori kepala lu, ntar kalo tuh motor beneran lu tabrak, gue ikut kena getahnya. Yang bener napa sih?"

Dedy diem aja mendengar cerocosan gue. Didiemin gitu gue ya mingkem juga akhirnya. Capek juga ngomel-ngomel begitu. Gue menarik napas dalam-dalam. Kata orang menarik napas panjang itu bisa menenangkan diri dari stress. Hisap lewat hidung keluarkan lewat mulut.... fuuuhhh...

Beberapa saat kemudian keadaan mulai bisa terkendali. Dedy udah nggak nyetir kayak orang mabal lagi. Santai, penuh keteraturan, dan penghayatan. Sementara gue bete cengok aja, gue mengambil rokok sebatang. Tiba-tiba sshhsss, si pengendara motor yang tadi diserempet Dedy ngebut menyalip kami. Setelah berhasil menyalip, dia berhenti agak jauh. Kayak nungguin sesuatu gituh.

Pas mobil kami udah berhasil menyalip si pengendara motor. Gue merhatiin si pengendara motor jalan pelan-pelan. Gue sih nggak mikir panjang. Nggak penting juga kayaknya. Yang ada di pikiran gue adalah ngerokok. Karena itu, gue mau buka jendela mobil. Mau ngerokok. Kan nggak enak juga ngerokok tanpa bukak jendela mobil. Pengap abisnya.

Pas itu, gue liat si pengendara motor udah ada di samping mobil, kepalanya nengok ke arah gue. Begitu kaca mobil udah gue buka, si pengendara motor itu juga ngebuka kaca helmnya sambil ngeliatin gue dengan tajam. Gue sih bodo amat. Yang salah kan Dedy, bukan gue. Terus gue ambil korek api, gue sulut rokok gue. Satu isepan gue keluarin keluar jendela... uuiih nikmat tiada tara. Gue nikmati hidup banget nih kalau begini. Si pengendara motor mendekat... dan sejurus kemudian cuhh... dia ngeludah terus ngomong, 'anjing lu ye...' Terus langsung cabut ngebut bersama motornya. Muka gue basah kena ludahnya dia yang meleleh-leleh. Siakek, bau banget jigongnya. Dedy terus ngeliatin gue. Terus ngakak nggak ada habis-habisnya.

"Yang salah kan lu, kok gue yang diludahin?" kata gue dengan muka yang nanar minta pembelaan.

Cerpen Lucu & Gokil 11 - Hantu Melamar Hantu


Pada suatu hari ada seorang hantu yang ingin melamar gadis, singkat kata begini ceritanya. Usro bertamu ke rumah gadis yang dikenalnya semalam sesuai petunjuk alamat yang diberikan kepadanya. Ketika bertemu dengan orang tua si gadis, dengan penuh harap, Usro berbicara dengan bapak si gadis.

Usro : Maaf, Pak, semalam saya berkenalan dengan Tinem, anak Bapak. Entahlah, saat itu juga saya jatuh hati kepadanya dan Tinem sendiri sudah bersedia menjadi pendamping saya. Untuk itulah saya datang kemari, untuk melamar Tini.

 Bapak : Apa??, bagaimana sih kamu nak? Tinem anak saya itu sudah meninggal 7 hari yang lalu karena kecelakaan!

Usro : Tidak apa-apa kok, Pak, saya sendiri juga sudah meninggal 100 hari yang lalu.

Bapak : #Nelen Kursi !!!!

Cerpen Lucu & Gokil 12 - PENYEBAB KEMATIAN


Ada dua pria, baru saja meninggal, sedang menunggu nasib di pintu akhirat, karena iseng, mereka kemudian mengobrol.

Pria 1: Kenapa kamu bisa meninggal ?
Pria 2: Mati beku
Pria 1: Bagaimana rasanya mati beku ?
Pria 2: Nggak terlalu sakit, mula2x merasa dingin, lalu merasa badan mulai beku, dan selanjutnya gampang saja, tahu2x saya sudah berada di sini, lha situ sendiri kenapa matinya ?
Pria 1: Serangan jantung, saya selalu curiga, istri saya ada main dengan cowok lain, jadi satu hari saya pulang kantor lebih cepat, saya mendengar suara pria, lalu segera saya lari ke kamar saya di lantai dua, istri saya ada di ranjang, tapi kok tidak ada orang lain, saya buka lemari pakaian, tidak ada orang, saya lari ke dapur dilantai satu, nggak ada orang, saya lari ke kamar mandi nggak ada orang juga, tapi saya lupa membuka kulkas, terus saya lari langsung ke lantai 3, & begitu sampai, saya kena serangan jantung & mati.
Pria 2: Sayang sekali, coba kalau waktu itu anda buka itu kulkas, mungkin kita berdua nggak bakal mati"

Cerpen Lucu & Gokil 13 - Waktu Kakek Masih Muda


Seorang kakek dengan bangga menceritakan masa mudanya kepada cucunya.

Kakek : "Suatu malam, ketika kakek masih muda dulu kakek pulang melewati lorong yang gelap. Tiba-tiba kakek di hadang oleh lima orang perampok. Dengan gagah kakek melawan mereka berlima sehingga terjadilah perkelahian yang seru. Akhirnya dengan keahlian berkelahi yang kakek miliki, kakek berhasil menjatuhkan empat orang perampok itu"

Cucu: "Wah, kakek jago juga ya! Trus perampok yg satunya gimana kek?"

Kakek : "Sttttsss.....dia itu yang bawa kakek ke rumah sakit".kata kakek sambil berbisik.

Cerpen Lucu & Gokil 14 - Kendi beracun


Ketika masih muda, Abu Nawas pernah bekerja di sebuah perusahaan jasa jahit pakaian. Suatu hari majikannya datang membawa satu kendi madu dan karena kuatir madu itu diminum Abu Nawas, maka majikannya berbohong dengan berkata, "Abu, kendi ini berisi racun dan aku tidak mau kamu mati karena meminumnya!!!"

Sang majikan pun pergi keluar, pada saat itu Abu Nawas menjual sepotong pakaian, kemudian menggunakan uangnya untuk membeli roti dan menghabiskan madu itu dengan rotinya.

Majikannya pun datang dan sadar bahwa pakaian yang dijualnya ternyata kurang satu sedangkan madu dalam kendi juga telah habis. Bertanya dia pada Abu Nawas, "Abu!!! Apa sebenarnya yang telah terjadi..?".

Abu Nawas menjawab, "Maaf tuan, tadi ada seorang pencuri yang mencuri pakaian tuan, lalu karena aku takut akan dimarahi tuan, jadi aku putuskan untuk bunuh diri saja menggunakan racun dalam kendi itu..."

Cerpen Lucu & Gokil 15 - Pemeras Kecil


Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok harinya, ia menemui lelaki itu.

“Abang semalam mencium kakakku bukan?”
“Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup mulut!”
“Terima kasih, ini uang kembaliannya lima ratus!”
“Lho, kok pakai uang kembalian segala?”
“Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus!”
“???!!!”

Cerpen Lucu & Gokil 16 - Pamer Merek Parfum mewah


Seorang wanita tua naik lift di Gedung Kantor yang sangat mewah. Seorang wanita muda dan cantik masuk ke dalam lift dan berbau wangi lalu menoleh kepada wanita tua dan berkata angkuh, "Giorgio - Beverly Hills, $100 per ounce"
Wanita muda dan cantik berikutnya naik di lift dan juga sangat arogan menatap menjadi wanita tua itu dan berkata, "Chanel No 5, $150 per ounce!"
Sekitar tiga lantai kemudian, wanita tua itu telah mencapai tujuannya dan akan turun lift. Sebelum dia pergi, dia melihat kedua wanita cantik itu, tersenyum, lalu membungkuk, dan mengeluarkan sebuah kentut yang berbau paling busuk.
Dia meninggalkan kedua wanita itu di dalam lift, sambil mengatakan "Brokoli, 50sen sekilo!"

Cerpen Lucu & Gokil 17 - "Bibir Ajaib"


sepasang kekasih Dewal dan Noja lagi berduaan di ruang tamu,.

Noja : bang, bibir neng sariawan jadi agak susah ngomong,.

Dewal : sini biar abang cium pasti sembuh,.(cowok itu kemudian mencium bibir pacarnya), ” gimana rasanya???

Noja : gimana…gimana… gitu bang, ehm sariawan neng sembuh sih,. tp bang kok leher neng yang jadi sakit gini,.

Dewal: sini biar abang cium pasti sembuh,. (itu cowok lalu menciumi leher pacarnya)

Noja : woww,. sakitnya hilang bang,.. tapi sakitnya kok pindah ke dada neng ya??

Dewal : kalo gitu biar abang ciumin dada neng ya??

tiba-tiba nenek si cewek yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua, muncul dan berkata,.

ehh nak Dewal, lu bisa sembuhin penyakit ambeien gue kali ya, kayaknya elu punya mulut ajaib gitu,. Tolong dong,.

Cerpen Lucu & Gokil 18 - Nama Ambil Dari Al-quran


Doni dan Tono adalah sahabat sejati, keduanya baru saja di karuniai seorang anak. dan pada suatu saat meraka bertemu terjadilah percakapan berikut.

Doni : No, anak lo namanya siapa?
Tono : Azis, ambil dari Al-quran tuh
Doni : anak gue namanya juga ambil dari Al-quran
Tono : siapa?
Doni : Saitonirojim
#tibatibahening


Cerpen Lucu & Gokil 19 - Cerita Lucu Maling
Alkisah suatu malam ada dua orang maling yang baru saja berhasil merampok sebuah warung
Maling 1 : Jon lu tadi ngambil barang apa aja?
Maling 2 : Gw ngambil perhiasan, duit, TV LCD 32 inchi sama HP BlackBerry Z10
Maling 1 : Kalo gw berhasil ngambil sendal dan hape samsung galaxy s4 si pemilik warung
Maling 2 : Jiah lu bego banget. Ngapain ngambil sendal. Kenapa ngga ngambil barang berharga oon.
Maling 1 : lu tuh yang bego. Gw ngambil sendal si pemilik warung supaya dia ngga bisa ngejar kita.
Maling Dua : ?!?!?!@##

Cerpen Lucu & Gokil 20 - JUAL KAMBING


Bejo : mak..... emak sakit ya???
Emak : iya jo...
Bejo : hmm...kita ke dokter yuk...
Emak : mau bayar pake apa'an....kan duit kita udah tipis jo..
Uhukk...uhukk
Bejo : kita jual si tole(kambing) aja mak..
Emak : tapi kan tuh kambing kesayangan elu....
Bejo : kan bejo lbh sayang emak...
Emak : terserah elu aja dah...
Bejo : ya udah..bejo jual ke pasar ya mak...
Emak : iye...inget ya jo...tuh kmbing bandot..lu jual jutaan...
Jangan mau kalo ditawar murah..sayang....
Bejo : iya mak..bejo juga tau...kn bejo dah capek2 ngerawat...
Kalo gitu bejo pamit ya mak...
#berangkat jual kambing

Tak lama kemudian

bejo : mak...kambing kita laku..jutaan...
Emak : alhamdulillah....
Bejo : pertamanya dia cuma nawar 500rb mak..
Ihh enak aja...kambingnya ditawar murah bnget...kagak bejo kasih...
Emak : bagus tuh jo..emang pembeli jman sekarang maunya murah mulu'...terus... Lu jawab apa wktu dia nawar gitu...
Bejo : bejo bilang...pesan emak kambingnya mesti dihargai jutaan pak...
Gitu mak...
Alhamdulillah....setelah mikir lama...
Akhirnya dia mau juga....harga jutaan..
Bejo : Memang berapa jo dia beli tuh kambing???berapa juta???
Bejo : setengah juta mak...
Hebat kan...sesuai pesan emak..jutaan...gimana???puas mak???
Emak : #*@?&@#*-+???
# semaput dadakan

Cerpen Lucu & Gokil 21 - Didalam kandungan seorang ibu, ada 3 janin bayi kembar yang terlibat percakapan


bayi 1 : eh, kamu jikalau telah lahir, apa perihal pertama yang kamu kerjakan ?
bayi 2 : saya pingin lihat ibuku yang sudah mengandung kita sepanjang 9 bln.
bayi 2 : saya pingin lihat dokter yg senantiasa merawat kita. jikalau kamu ?
bayi 1 : saya pingin lihat binatang kurang ajar yang setiap malam senantiasa berkunjung ke kita dan meludahi kita bertiga !!


Ada 21 kumpulan cerpen lucu dan gokil, semoga menghibur dan cukup mengocok perut sobat semua. Jangan lupa kalau baca cerpen lucu siapkan kacang gar*da,

Selengkapnya ►

Cerpen Cinta Romantis Mengharukan

Cerpen Cinta Romantis mengharukan ini merupakan sentuhan gaya penulis untuk mengutarakan isi hati lewat tulisan. cerpen ini mengisikan kisah romantis cinta yang sangat keren untuk di baca dan untuk di hayati kata kata cinta ini

cerpen adalah sebuah singkatan dari cerita pendek. cerpen cinta ini tersusun dari bentuk proses naratif fiktif karena cerita ini identik dpada penulisan yang singat padat langsung pada inti jalanya cerita. beda halnya dengan sebuah novel. cerpen lebih sangat di minati oleh para pembaca karena ceritanya yang pendek.


Cerpen cinta another love story

Michelle sudah berdiri di balik meja kasir sebuah toko kaset di sebuah mall selama berjam-jam dengan seragam berwarna abu-abu dan topi hitam menunggu pelanggan yang akan membeli kaset. Dia sedang menulis sesuatu di buku jurnalnya ketika seorang cowok berjaket biru dengan garis merah dilengannya membawa sebuah kaset berjalan ke meja kecil didepan meja kasir. Dia dapat melihat dari sudut matanya cowok itu memasukkan kaset ke cd room dan menekan tombol play setelah kasetnya masuk ke kepemutar, lalu dengan sigap dia memasang earphone. Untuk sejenak cowok itu hanya berdiam diri sambil mendengarkan lagu ditelinganya.

Michelle menggantung ujung penanya di jari sambil memikirkan hal apa saja yang menurutnya menarik untuk ditulis di jurnal pribadinya itu. tak sengaja dia memandang wajah cowok yang masih serius dengan musik ditelinganya. Wajah cowok itu terlihat seperti bercahaya. Hidung, mata, poni dan bibirnya terlihat sangat sempurna. Sempat terbesit dipikirannya betapa beruntung cowok itu memiliki wajah sempurna, dan jika dilihat sepertinya cowok itu juga mempunyai kehidupan yang sempurna. Dia tersadar dari lamunannya ketika tangan cowok itu bergerak membuka earphone ditelinganya, dia segera berpura-pura sibuk dengan jurnalnya. Dalam hati dia sangat malu karena hampir ketahuan sedang memperhatikan cowok itu.

Cowok itu meletakkan kaset itu diatas meja kasir dan mengeluarkan uang dari dompetnya.

Michelle segera berdiri dan menghitung harga kaset itu dengan lat pemindai barcode, dia memandang layar komputer dengan hati-hati. Dia masih merasa sedikit grogi. “Rp. 40.000..” ucapnya pelan, dia menghindari tatapan mata cowok itu.

Cowok itu memberikan uang Rp. 50.000 pada Michelle. Dia merasakan keanehan sikap Michelle. Dia memandang bayangan wajahnya di kaca transparan yang menjadi dinding toko kaset itu, memastikan tak ada yang aneh pada wajahnya. Namun tak ada apapun yang membuat wajahnya terlihat janggal.

Michelle segera membungkus kaset tadi dan memberikannya pada cowok itu bersama uang kembalian. “Ini, terima kasih sudah berkunjung ketoko kami dan silahkan kembali lagi..” ucapnya pelan. Sekilas dia memandang kedua bola mata cowok itu. bola matanya berwarna coklat muda, sangat mengagumkan.

Cowok itu tersenyum, “Thank’s..” dia mengambil kaset dan uang kembaliannya, lalu segera melangkah keluar dari toko.

Michelle sempat memandangi cowok itu untuk beberapa saat, lalu dia kembali memandang jurnalnya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi yang berhubungan dengan cowok itu, tapi dia berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh.

“Jangan terlalu memperhatikan.. Nanti patah hati..” Goda Kevin, bos tempatnya bekerja sambil berlalu dengan senyuman khasnya.

Michelle hanya tersenyum tipis sambil menundukkan wajah.

Yap! Inilah hidupnya. Michelle Regina. Seorang gadis yang masih berusia 17 tahun yang sudah harus merasakan beratnya berjuang demi menyambung hidup. Pada usia 11 ibunya meninggal karena kanker. Wanita yang sangat tegar dan selalu menjadi inspirasi hidupnya. Tak lama kemudian dia merasakan betapa kejamnya ibu tiri, bahkan ayahnya sudah mulai tak memperdulikan dirinya. Ketika adik tirinya lahir, ayahnya bahkan tidak segan-segan menyakitinya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melarikan diri ketika usianya masih 15 tahun. Oleh karena itu dia tak bisa melanjutkan sekolahnya. Dia berjuang sendiri dengan tangan dan kakinya untuk menyambung hidup.

Michelle berjalan seorang diri diantara gelapnya malam. Jalanan belum terlalu sepi. Dia merapatkan jaketnya sambil memastikan sekeliling. Dingin terasa sangat menusuk kulit. Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai ke kontrakan kecil yang dia sewa dengan harga paling murah. Kondisi rumah itu hanya memiliki dua ruangan kecil, bagian depan dia jadikan kamar dan dibelakang dapur. Meskipun begitu, dia bisa menyulap rumah itu menjadi rumah yang sangat nyaman. Dia tinggal di daerah kumuh dan lingkungan yang kurang baik. Selisih beberapa rumah dari kontrakannya ada tempat pelacuran yang selalu buka sampai pagi, bahkan dia pernah ditawari untuk bekerja disana.

Michelle membaringkan tubuhnya diatas kasur. Memandang langit-langit kamarnya. Tiba-tiba dia teringat wajah cowok tadi, wajah yang seperti bercahaya yang telah menarik perhtiannya. Dia baru menyadari kalau dia adalah remaja. Tapi apa yang harus dia lakukan?? Berlaku seperti remaja lain yang menghabiskan uang di mall bersama teman-teman mereka, atau memiliki kekasih tampan yang selalu mereka pamerkan kemana-mana? Sudah pasti dia tak bisa melakukan itu semua. Hidupnya hanya bisa diisi oleh kerja keras untuk menyambung hidup. Rasanya dia tak berhak mendapatkan itu semua.

Tapi.. bayangan cowok itu membuat hatinya bergetar. Apa yang terjadi?

***

Malam ini Michelle pulang lebih awal karena bos tempatnya bekerja mempunyai acara yang tak bisa dia lewatkan. Biasanya dia baru pulang dari toko kaset sekitar pukul 10 atau 11, tapi sekarang baru pukul 8. Dia senang bisa mempunyai waktu senggang malam ini, jadi dia bisa mampir kesebuah pasar malam yang tak jauh dari rumahnya. Meskipun tak mempunyai teman, paling tidak dia bisa merasa terhibur berada di tengah-tengah keramaian sambil menyaksikan berbagai pertunjukan. Beberapa kali dia mengelap air mata yang mulai membasahi pipinya ketika mengingat almarhum ibunya sering mengajaknya ke pasar malam dulu. Matanya terpaku pada sebungkus gulali yang dijual oleh seorang pedagang. Dia menyukai gulali, tapi jika dia membeli gulali itu bisa saja membuka kenangan-kenangan tentang ibu yang sangat mencintainya. Suasana membahagiakan itu cukup menyiksa batinnya, jadi dia memutuskan untuk pulang.

Dia menendang beberapa batu kecil yang tergeletak dijalan. Jalanan menuju rumahnya sangat sepi, membuat suasana hatinya semakin mellow. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang direm secara paksa tak jauh dari tempatnya berjalan, dia melirik mobil itu dari sudut matanya. Tampak beberapa pria bertubuh besar keluar dari mobil sambil menyeret seorang pria muda yang memakai sweater berwarna abu-abu. Dia tak bisa melihat pria yang diseret itu dengan jelas. Dia hanya menunduk berpura-pura tak melihat apapun. Karena disekitar rumahnya bukan hal yang aneh jika terjadi tindak kriminal.

“Aaaww!!” rintih Michelle ketika salah seorang pria besar itu menabraknya. Dia memegangi bahunya yang nyeri.

Pria itu memandang Michelle dengan muka garangnya, “Jangan menutupi jalan!!”

Michelle segera menyingkir dari jalan agar mereka bisa lewat.

“Lepasin!!!” seru pria yang diseret itu.

Michelle mengangkat wajahnya untuk melihat pria itu. Meskipun gelap, tapi dia bisa mengenali pria itu dengan gampang dari hidung dan matanya. Dia terkejut ketika menyadari yang sedang diseret itu adalah cowok yang tempo hari berbelanja di toko kasetnya.

Cowok yang tak bisa berkutik karena dipegangi oleh dua orang bertubuh besar dikanan dan kirinya itu juga mengenali Michelle, dia berteriak meminta pertolongan. “Heii!! Loe yang di toko kaset itu kan?? Please! Tolong gue!!!”

Michelle ingin sekali bisa menolong pria itu, tapi apa yang bisa dia lakukan. Dia ketakutan. Tiba-tiba seorang pria yang paling belakang menjambak rambutnya dengan kasar. “AAAwww!!!!”  jeritnya.

Pria bertubuh besar itu mencengkeram rambut Michelle dengan kuat, lalu berbisik ditelinga gadis itu. “Anggap loe ngga ngeliat apapun malam ini kalau loe masih mau hidup!! NGERTI LOE?!!” ancamnya.

Michelle kesakitan. Tak tau apa yang harus dia perbuat, dia mengangguk perlahan. “I.. iya..”

“Kalalu loe sampai ngelapor ke polisi, loe bakalan gue buat kayak cowok yang didepan itu!!!” pria itu menyentakan tanganya hingga tubuh Michelle yang kecil terhempas ke aspal.

DUUG!!! Rasa pedih menjalar dikepala Michelle untuk beberapa saat, lalu menghilang. Secercah cahaya masuk kecelah matanya, ingatan-ingatan tak mengenakan itu kembali muncul. Senyum ibunya, kasih sayang yang selalu dia rasakan ketika itu. dan perlakuan tidak adil dari ayahnya.

“Chel! Chel! Banguun!” Ucap sebuah suara lembut yang tak asing ditelinga Michelle.

Michelle membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pusing, semuanya terasa berputar. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk membiasakan matanya dengan cahaya terang. Setelah beberapa saat baru dia bisa melihat dengan jelas siapa yang memanggil namanya, Finda, seorang gadis yang tinggal tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Loe kenapa Chelle?? Kok bisa pingsan di jalanan gini??” Tanya Finda cemas.

Setelah mendengar ucapan Finda, Michelle baru mengingat kejadian terakhir. Ternyata dia pingsan semalam. Dahinya terluka, darah kering masih terpapar jelas disana. Dia belum punya cukup tenaga untuk menceritkannya pada Finda.

“Yaudah, loe bangun dulu.. gue anter kerumah ya.. Loe istirahat aja dulu..” Ucap Finda sambil membantu Michelle bangkit.

Sesampai dirumah. Michelle segera berbaring ditempat tidurnya. Dia mengingat cowok yang telah merasuki pikirannya selama berhari-hari itu. bagaimana nasibnya sekarang.

“Ohh.. jadi gitu. Hati-hati loe Chel, mereka pasti orang suruhan yang ditugasin untuk ngabisin tuh cowok. Mending jangan cari gara-gara dengan orang yang kayak gitu. Entar malah loe yang kena batunya.” Ucap Finda setelah mendengar cerita Michelle ketika dia baru selesai mengobati luka didahi gadis itu.

“Tapi gue khawatir banget dengan cowok itu..” Ucap Michelle.

Finda memandang Michelle tak mengerti, “Chell.. belum apa-apa aja loe udah kayak gini, gimana kalau loe sampe dibunuh sama mereka?? Emang loe kenal sama cowok itu??”

Michelle menggeleng, “Ngga.. tapi dia pernah belanja di toko kaset tempat gue kerja.”

“Udah deh, Chel.. Jangan cari masalah! Yaudah, gue balik dulu ya. Takut nyokap nyariin.. loe ngga apa-apa kan gue tinggal??” Tanya Finda.

Michelle tersenyum tipis sambil mengengguk, “Iya, ngga apa-apa.. Thank’s ya..”

Finda bangkit dan keluar dari rumah kontrakan Michelle.

Walaupun Finda memintanya untuk tidak memikirkan tentang cowok itu, tapi pikirannya tak bisa berhenti membayangkan wajah panik cowok itu semalam. Dia merasa sangat bersalah karena tak bisa melakukan apapun. Dia bangkit perlahan dan duduk di pinggir kasur, membuat daftar kecil diotaknya tentang apa saja yang mungkin terjadi pada cowok itu.

Benturan dikepala benar-benar membuatnya tak bisa berlama-lama menegakkan kepala selama beberapa hari. Hal itu membuatnya terpaksa mengambil cuti untuk sementara waktu dari tempat kerjanya. Dihari ketiga, dia sudah bisa beraktifitas seperti biasa meskipun pusing dikepalanya belum hilang seutuhnya.

Tok! Tok! Tok! Terdengar ketukan dari luar.

Reflek kepala Michelle langsung memandang kearah pintu. Dalam hati dia bertanya siapa yang datang, dia beridiri perlahan dan berjalan kepintu tanpa mengeluarkan suara.

“Michelle.. ada yang mau ketemu kamu nih...” Ucap suara riang dari luar, Michelle tau itu adalah suara ibu pemilik kontrakan yang selalu ceria, Bu Darni.

Langkah Michelle terhenti sejengkal sebelum mendekati pintu. Siapa yang mencarinya? Itu lah yang sedang bergulat dipikirannya. Dengan sangat hati-hati dia mengintip dijendela kamarnya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok pria bertubuh tinggi dan sedikit gemuk berdiri didepan pintu bersama Bu Darni. Dia segera mengbungkam mulutnya dengan tangan ketika teriakan kaget akan keluar dari mulutnya. Dia melangkah mundur sepelan mungkin menjauhi pintu. Pikirannya kacau. Dia tak tau harus melakukan apa. Kenangan-kenangan buruk di masa lalu kembali muncul dibenaknya. Masih ingat jelas dipikirannya bagaimana cara pria tinggi dan sedikit gemuk itu menghukumnya hanya karena dia tidak terlihat senang ketika adik tirinya lahir, dia nyaris mati karena ditenggelamkan di bathup. Tubuhnya bergetar, dia sangat panik! Dia benar-benar tak mau bertemu pria yang secara biologis itu adalah ayahnya. Jalan satu-satunya adalah kabur secepatnya. Dia segera menjangkau tas kecil yang tergantung di dekat kasurnya, lalu dengan cepat dia memasukkan baju secukupnya kedalamnya. Setelah mengambil dompet dia segera masuk kedapur untuk keluar dari pintu belakang sebelum Bu Darni berinisiatif masuk menggunakan kunci cadangan. Dia membuka pintu belakang perlahan, tak terlihat siapapun disana. Dengan cepat dia keluar dan menjauh dari rumahnya secepat mungkin. Dia sudah merasa cukup tersiksa selama ini bersma ayahnya, dan dia tak mau mengalaminya lagi. Tubuhnya masih bergetar ketika dia duduk di halte bus, walaupun dia tak berniat naik bus. Dia masih tak mengerti bagaimana ayahnya bisa mengetahui tempat tinggalnya dan kenapa setelah beberapa tahun dia pergi dari rumah pria itu malah mencarinya. Sekarang selain kenangan masa lalu yang menyesakkan dadanya, pertunya juga menyiksanya karena dia lupa sejak kemarin belum makan apa-apa. Dia segera mencari warung untuk mengisi perutnya sebelum pingsan karena kelaparan.

Setelah perutnya terisi, pikirannya kembali jernih. Dia memikirkan langkah selanjutnya yang akan dia lakukan. Tidak mungkin untuk sementara waktu ini dia kembali kekontrakan.

“Telah dilaporkan menghilang, seorang anak pengusaha ternama di Indonesia, William Kim, pada dua hari yang lalu...” ucap pembaca berita di sebuah tv kecil yang terdapat disudut warung itu.

Spontan Michelle memandang ke layar tv. Matanya melotot melihat foto yang terpampang di layar tv. Itu adalah foto cowok yang semalam diseret oleh orang-orang itu sedang tertawa sambil memegang kamera. dan ciri-ciri yang disebutkan pun sama persis.

“.. ketika menghilang dia mengenakan sweater abu-abu dan jeans berwarna hitam...”

Michelle semakin panik. Ternyata cowok yang bernama William itu belum pulang sejak kejadian malam itu. apa yang terjadi?? Pikirannya kembali berkecamuk. Dia segera meninggalkan warung  itu sebelum ada orang yang menyadari kepanikannya. Dia tak tau harus melakukan apa dan harus pergi kemana. jadi dia memutuskan untuk mengunjungi makam ibunya.

Dia berjalan diantara makam-makam yang tak terawat. Begitu juga makam ibunya. Sudah bertahun-tahun dia tak berkunjung kemari. Dia membersihkan makam itu dengan tangan, sebersih yang dia bisa. Setelah itu dia duduk di pinggir makam ibunya, dia memandangi nisan ibunya yang sudah mulai memudar. Dalam hati dia menjerit dan menceritakan semua kesedihannya. Air mata pun ikut menemaninya dalam hening. Dia mulai terisak sambil menghapus air matanya.

“Michelle ngga tau harus ngelakuin apa, Ma..” ucapnya lirih. “Bantu Michelle ma.. Michelle ngga bisa menghadapi ini sendiri.” Dia mulai terisak lagi, “Maafin Michelle karena ngga bisa jadi anak yang bisa ngebanggain mama.. Michelle takut..” dia tenggelam dalam tamgis beberapa saat, “Apa yang harus Michelle lakuin ma??”

“Loe harus tolong gue..” Ucap sebuah suara di sisi lain makam ibu Michelle.

Michelle memandang orang yang mempunyai suara itu, dan betapa terkejutnya dia melihat William duduk di hadapannya. Dia terlonjak kebelakang dan hampir terjerembab jika tangannya tidak dengan sigap menahan tubuhnya. Matanya melotot memandang cowok yang baru saja dia lihat berita hilangnya di TV. “L.. loe??!!!”

William pun tampak terkejut, dia segera melihat tangan dan tubuhnya. Lalu kembali memandang Michelle, “Loe bisa ngeliat gue??”

“Loe masih hidup??” Ucap Michelle terbata-bata.

William berdiri dan hendak menghampiri michelle yang masih terlihat shock, “Loe bisa ngeliat gue?!” ulangnya.

Michelle berdiri dan segera menjaga jarak dengan William, “Jangan mendekat!!!” serunya.

Langkah William terhenti, dia memandang Michelle yang masih ketakutan dan bingung. “Gue tau loe pasti kaget ngeliat gue, tapi please! Loe harus nolongin gue!” pintanya.

Nafas Michelle terasa sesak, “Loe masih hidup? Kenapa loe ngga pulang ketempat keluarga loe? Mereka semua nyariin loe..”

“iiya, gur tau..” William melangkah mendekati Michelle.

“Stop! Jangan deketin gue!!!” Michele segera mundur, tangan kanannya terulur kedepan isyarat menalarang William untuk maju.

“Oke! Gue ngga akan ngedekatin loe!” Ucap William, “Gue Cuma mau minta pertolongan loe!”

“pertolongan gue? Buat apa? Loe tinggal pulang aja kan kerumah loe, semua orang pasti ngga akan ribut.” Ucap Michelle.

“Gue udah pulang kerumah gue! Gue udah pergi kekampus! Gue udah pergi kemana pun tempat dimana orang selalu mondar-mandir. Tapi ngga ada satu pun dari mereka yang ngeliat gue!! Dengar suara gue! Atau pun ngerasain sentuhan gue!!!!” Jelas William frustasi.

Michelle terkejut mendengar ucapan William, “Apa?!”

“Iya.. gue kaget banget loe bisa ngeliat dan denger suara gue tadi! Please! Gue mohon bantu gue! Udah dua hari keluarga gue khawatir nyariin gue! Tapi mereka ngga tau keberadaan gue! Please! Gue mohon...” suara William terdengar memelas.

Michelle masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, “Jadi maksud loe, loe udah meninggal?”

William menunduk, lalu mamandang Michelle lemah. Dia mengangguk pelan, “Gue rasa...”

Michelle semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi, “Tunggu, berarti loe ini hantu?!”

“Itu nggak penting! Gue butuh bantuan loe untuk nemuin badan gue! Please! Nyokap gue khawatir banget.. dia ngga bisa melakukan apapun kecuali nangis karena gue belum ditemuin..” Ucap William lagi.

Michelle berusaha mencerna kejadian itu dengan pikiran jernih, tapi begitu banyak kejutan hari ini yang membuatnya panik.

“Gue mohon! Cuma loe harapan gue.. walaupun nyokap gue ngga ngeliat gue pulang dengan selamat, tapi paling ngga dia bisa ngeliat badan gue. Dia ngga akan sedih mikirin gue yang menghilang...” ucap William meyakinkan Michelle.

Michelle memandang William dengan wajah menyesal, “Sorry, gue ngga bisa ngebantuin loe. Loe datang sama orang yang salah...”  dia memperbaiki sandangan tasnya, lalu berjalan pergi.

“Heiii! Jangan pergi!” William mengikuti Michelle. “Please tolong gue! Cuma loe yang bisa ngebantuin gue!”

Michelle terus berjalan tanpa menggubris ucapan-ucapan William, meskipun hatinya sangat menyesal. Sepanjang jalan cowok itu tak henti-hentinya memohon agar dia mau manolongnya. Tapi dia hanya diam. Dan ternyata memang tak ada satu orang pun yang mendengar ucapan William kecuali dirinya.

“Please!! Andai loe jadi gue, apa loe bakal biarin nyokap loe sedih setiap hari karena mengira loe menghilang...” Ucap William dengan nada memelas.

Michelle tergugah karena ucapan William barusan, dia berhenti melangkah dan memikirkannya.

“Itu nyokap gue!” Ucap William sambil menunjuk layar tv yang terdapat pada sebuah warung dengan tatapan matanya.

Michelle memandang layar tv. Tampak seorang ibu-ibu yang masih cantik terawat menangis didepan semua media yang meliput.

“Saya tidak butuh apapun kecuali putra saya, Will!! Tolong kembalikan dia!!” ucap ibu William dengan linangan air matanya.

Michelle terdiam, tak tau apa yang harus dia lakukan. Dia terkejut melihat William tiba-tiba berlutut dihadapannya. Dia melihat kanan kiri, tapi tak ada yang melihat apa yang sedang dilakukan cowok itu. “Heii..” ucapnya pelan, berharap tak ada yang mendengarnya.

William berdiri dengan satu lututnya dihadapan Michelle, kepalanya tertunduk. “Gue mohon!”

Hati Michelle luluh melihat keteguhan William. Dia teringat almarhum ibunya, dia juga pasti tak tega jika melihat ibu yang dicintainya menangis cemas seperti itu.

William mengangkat wajahnya memandang Michelle, “Apa gue perlu nyium kaki loe??”

Michelle menggeleng pelan, “Oke, gue bantu loe..”

Wajah William langsung berseri, dia segera berdiri dan hampir memeluk Michelle. Tapi dia sadar kalau tubuhnya sudah tak sepadat dulu hingga bisa memeluk seseorang. Dia tak tau harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihnya, “Makasih banget...”

Michelle mengangguk sambil tersenyum tipis, dalam hati dia bertanya-tanya apakah dia bisa membantu William.

“Hmm.. nama loe siapa?” Tanya William setelah cukup lama hening ketika dia dan Michelle duduk disebuah taman permainan anak-anak yang sudah lama tidak digunakan.

Michelle yang duduk sambil memeluk lututnya dibawah sebuah jembatan gantung memandang William, “Michelle.. dan nama loe William kan?”

William tersenyum tipis, dia tak terkejut Michelle mengetahui namanya. Karena sejak tadi pagi fotonya sudah tersebar dilayar tv, “Ya.. loe cukup panggil gue Will...”

Michelle mengangguk, lalu keadaan hening lagi.

Akhirnya Will, memulai pembicaraan yang serius. “Apa loe takut ada didekat gue?”

Michelle memandang Will serius, “Tadinya iya..”

“Sekarang?” Tanya Will sedikit penasaran.

Michelle menggeleng, “Ngga lagi. Karena loe ngga kayak hantu yang ada dicerita fiksi. Loe ngga berdarah, ngga ketawa yang nyeremin..” dia tertawa kecil saat mengatakan itu.

Will tersenyum, “Ya, gue emang ngga kayak gitu..”

“Oh iya, malam itu. orang-orang itu bawa loe kemana?” Tanya Michelle.

Will mencoba mengingat, “Yang jelas, tempatnya pengap. Disekeliling tempat itu ada air. sekitar 5 menit dari jalan tempat kita ketemu. Gue ngga bisa ngeliat jelas karena waktu itu gelap banget!”

“loe diapain sama mereka?” Tanya Michelle hati-hati.

Will menatap kedua mata Michelle, terlihat kepedihan dimatanya. “seinget gue, begitu samapai disana mereka langsung nutup mata gue pake kain. Dan gue diseret lagi ngga tau kemana. Gue udah berusaha untuk ngebuka penutup mata itu, tapi tangan gue ngga bisa digerakin. Dua orang megangin tangan gue kenceng banget! Ngga lama kemudian mereka mendorong gue dan gue jatoh. Setelah itu gue ngga tau apa-apa lagi. Waktu gue sadar, gue ada kamar gue. Tapi ngga ada seorang pun yang menyadari kehadiran gue.” Jelasnya.

“Dan jatuh itu yang menyebabkan loe meninggal?” Tanya Michelle memperjelas.

“Gue rasa..” Ucap Will.

“Apa loe kenal siapa mereka?” Tanya Michelle lagi.

“Sama sekali ngga. Tiba-tiba aja mereka muncul waktu gue sedang dalam perjalan pulang dari tempat kursus musik, mereka langsung nyeret gue masuk kemobil.” Jelas Will lagi.

Michelle memikirkan semua informasi dari Will, mencoba menemukan petunjuk dari informasi-informasi itu. tiba-tiba dia teringat sesuatu, “tempat yang disekitarnya air?” gumamnya sambil mengingat.

Will memperhatikan Michelle.

“Apa tempat yang loe maksud itu kayak gedung tua yang disekitarnya danau?” Tanya Michelle.

Will mencoba mengingat, “Gue gak tau pasti apa disekitarnya danau atau kolam, atau apapun itu. tapi gedungnya emang keliatan tua banget!”

“Kayaknya gue tau tempat yang loe maksud! Ayo!” Michelle segera berdiri dan melangkah cepat menuju tempat yang dimaksud Will itu.

Will segera mengikuti Michelle. Dia benar-benar berharap pada bantuan gadis berambut panjang itu.

***

Michelle mengendap-endap dibalik pohon besar sambil memperhatikan sebuah gedung tua yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri, Will tak perlu repot-repot bersembunyi seperti dirinya.

“Apa gedung itu yang loe maksud?” Tanya Michelle setengah berbisik.

Will memperhatikan gedung itu, disekitarnya memang terdapat danau. “Iya, gue yakin ini gedungnya..”

Angin lembut meniup rambut Michelle yang dibiarkan lepas, bekas perban dikepalanya masih terlihat bersih. “Gue harus masuk untuk ngeliat apa ada petunjuk tentang tubuh loe..”

“Maksud loe, kita?” Will menjelaskan maksudnya.

Michelle memandang Will sesaat, “Oke, kita harus masuk untuk ngeliat apa ada petunjuk tentang tubuh loe..” ulangnya.

Will tersenyum tipis, “Oke, kita masuk sekarang..”

Michelle melangkah keluar dari balik pohon dan melangkah pelan kearah gedung. Dia berusaha terlihat biasa saja agar tidak ada yang curiga, walaupun tak ada satu orang pun yang terlihat berada disekitarnya. Will berjalan disisinya dengan harapan yang membumbung tinggi.

Gedung itu sama sekali tak ada yang menjaga atau tanda-tanda ada orang yang pernah kesana. Hampir disetiap permukaan dinding bagian luar penuh dengan coretan cat pilox dan arang. Kondisi gedung itu juga tak memungkinkan jika ada yang tinggal disana. Mereka berhenti didepan gedung sambil melihat situasi.

“sepi banget! Kayaknya ngga ada orang..” Ucap Michelle.

“Jangan terlalu cepat mennyimpulkan.. kita belum tau apa yang tersembunyi didalamnya...” Ucap Will mengingatkan.

Michelle mengangguk, dia membetulkan posisi tas dan melangkah perlahan memasuki gedung yang pintunya sudah tidak jelas seperti apa bentuknya. Tanpa mengeluarkan suara dia melewati pintu. Lantai didalam gedung dipenuhi dedaunan kering yang terbawa angin dari depan gedung. Suasana didalam gedung terasa sedikit mencekam. Kondisi diruang pertama dan kedua sama, tak ada tanda-tanda ada orang disana.

“Diruangan ini mata gue ditutup dan diseret ngga tau kearah mana...” Ucap Will ketika mereka masuk ke ruang ketiga.

Michelle berhenti sejenak memperhatikan sekitar. Ruangan itu terlihat biasa saja, masih dengan sampah dedaunan kering yang berserakan dilantai. Tapi tidak sebanyak di ruangan sebelumnya. Matanya melihat sesuatu yang terselip diantara dedaunan. Hati-hati dia menyibakkan dedaunan itu dan menemukan sebuah handphone berwarna hitam dengan sedikit gores dipinggirnya.

“Handphone gue!” seru Will.

“Handphone loe mati..” Ucap Michelle, lalu memandang Will.

“Emang selalu gue matiin waktu kursus.. gue belum sempat ngaktifin lagi karena mereka keburu dateng. Mungkin handphone gue jatoh waktu mereka ngedorong gue disini..” Jelas Will.

“Hei!!” seru seseorang di belakang Michelle.

Michelle terkejut dan langsung memandang kebelakang, dia terkejut melihat seorang pria bertubuh besar berdiri di pintu masuk.

“Lari!!!” Teriak Will panik.

Michelle segera berlari kedalam gedung untuk menghindari orang tadi.

“HEI! Jangan lari loe!!!!” pria tadi segera mengejar Michelle.

Michelle berlari sekencang mungkin, masuk ke ruangan satu dan lainnya. Dalam hati dia berharap tidak ada pria besar lainnya didalam gedung. Dia sangat panik.

“Michelle! Di balik kardus-kardus itu!” Seru Will sambil menunjuk tumpukan kardus disudut ruangan.

Michelle tak sanggup berlari lagi, dia mengikuti saran Will dan segera bersembunyi dibalik kardus itu. nafasnya terengah-engah. Dia duduk dibelakang tumpukan kardus itu sambil mengatur nafas dan memasang pendengarannya dengan baik.

“Dia kesini! Jangan bersuara!” Ucap Will dari pintu masuk ruangan itu.

Michelle langsung menahan dirinya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Tak lama terdengar suara langkah berat memasuki ruangan itu. jantung Michelle berdegup kencang, dia benar-benar panik. Dia menutup mulut dan memejamkan matanya. Suasana hening sejenak, lalu terdengar langkah berat itu mendekati tempatnya bersembunyi. Tiba-tiba terdengar suara musik yang ternyata berasal dari handphone pria itu, dia hampir saja berteriak karena kaget.

Pria itu segera mengangkat panggilan di handphone-nya, “Hallo bos..” dia diam sejenak, “Tenang bos, ngga ada yang tau tentang anak itu... tenang bos, anak itu masih berada di dalam lubang itu. Iya, bos.. Besok akan segera saya pindahkan ke tebing didekat gedung ini.. Lapor bos, ada penyusup ke gedung ini.. Tapi akan segera saya bereskan! Baik..” dan pembiacaraan itu selesai. Terdengar langkah berat itu menjauh pergi.

“Dia udah pergi.” Ucap Will tak lama kemudian.

Michelle menghela nafas lega sambil mengurut dadanya. Dia bangkit perlahan sambil memperhatikan sekitar, memang sudah tidak ada pria tadi. “Kita harus segera pergi dari sini!” ucapnya pelan.

Will mengangguk, “Ayo!”

Ketika hendak melangkah keluar dari belakang tumpukan kardus itu, tangannya tak sengaja menyenggol sebuah kardus yang menyebabkan tutupnya terbuka. Dia terkejut melihat sebuah senjata api laras pendek tergeletak di dalam kardus diatas daun-daun kering.

“Ini... ganja..” Ucap Will mengenali daun itu.

“Hah?” Michelle memandang Will tak percaya. Dia sekarang sedang berhadapan dengan pengedar ganja yang sejak beberapa bulan lalu mulai dibicarakan oleh tetangga dan orang-orang disekitar rumahnya. “Ayo pergi!” dia melangkah menuju pintu.

“Tunggu! loe pasti butuh ini.” Will menunjuk senjata api tadi.

Michelle memandang Will tak mengerti, “pistol? Buat apa?”

“Michelle! Salah satu dari mereka udah ngeliat loe ada ditempat mereka, ngga mungkin mereka ngebiarin loe gitu aja. Loe butuh perlindungan diri..” Ucap Will mengingatkan.

Michelle mengerti maksud Will dan setuju akan hal itu, dia segera mengambil senjata api itu dan memasukkannya kedalam tas. “Kita pergi sekarang!”

“Ayo, lewat jendela! Loe ngga mungkin keluar lewat depan lagi.” Ucap Will sambil menunjuk jendela yang tepat berada dihadapan pintu tempat mereka berdiri.

Michelle mengangguk, dia segera melangkah kejendela, lalu membuka jendela perlahan. Untung jendela itu tidak macet atau sebagainya, namun jendela itu tidak bisa terbuka lebar. Dia menjulurkan kakinya keluar dan berusaha menyelipkan tubuhnya secepat mungkin. Tiba-tiba dia medengar langkah berat tadi mendekat.

“Cepat! Dia balik lagi!” seru Will.

Ucapan Will membuat Michelle semakin tegang, dia berusaha sekuat tenaga mendorong tubuhnya keluar melalui jendela. Akhirnya dia berhasil keluar dan segera berlari tepat ketika pria besar tadi melihatnya berada keluar dari jendela.

“Woooi!! Berhenti LOE!” seru pria tadi.

“Ayo Michelle! Jangan berhenti! Jangan liat kebelakang!” Ucap Will.

Michelle terus berlari. Terdengar suara tembakan dari gedung tadi. Beruntung peluru-peluru itu tidak mengenainya, hanya sempat nyaris melukai tubuhnya jika dia tidak terpeleset dan terjatuh sesaat hingga peluru itu mengenai pohon besar di sebelahnya. Dia tak membuangkan waktu untuk berlari lagi.

Tanpa disadari dia sudah berlari sampai ke jalan dimana dia melihat Will diseret oleh orang bertubuh besar itu, yang berarti dekat dengan rumah kontrakannya. Dia berhenti sejenak untuk menghela nafas sambil memandang kebelakang, pria bertubuh besar tadi tak terlihat lagi.

“Michelle! Michelle!” Panggil seseorang dari arah belakang Michelle.

Michelle memandang kearah belakang, matanya membesar melihat seorang pria yang tadi pagi membuatnya lari dari kontrakan.

“Itu siapa?” Tanya Will heran.

“Bokap gue!” Ucap Michelle pelan, lalu langsung berlari melarikan diri lagi.

“Lho, kenapa loe kabur?” Will mengikuti Michelle.

***

“Oh.. jadi gitu?” Ucap Will setelah mendengar alasan Michelle kenapa kabur dari ayahnya tadi.

Michelle menunduk memandangi jemarinya. Dia dan Will berada dibawah sebuah terowongan yang sering dia datangi ketika merasa tak mempunyai tempat untuk sendiri. Hari sudah gelap, hujan turun perlahan membasahi bumi. Dia memandangi rintik-rintik hujan yang turun semakin deras sambil memeluk kedua kakinya. Udara malam yang dingin mulai menusuk kulitnya. Berkali-kali dia merapatkan jaket.

“Tapi kenapa loe kabur? Mungkin aja bokap loe dateng untuk minta maaf karena dia udah menyadari kesalahannya atau mau menyampaikan hal penting lainnya..” Ucap Will.

Michelle memandang Will, “Hmm.. kemungkinan itu Cuma 5% akan terjadi..” ucapnya, “Loe ngga pernah tau gimana dia udah nyakitin gue. Bukan hanya hati gue. Tapi seluruh masa depan gue..”

“Michelle, 5% tetap saja peluang..” Ucap Will.

“5% itu sangat kecil! Gue ngga mau mengambil resiko hanya untuk 5%..” Ucap Michelle.

“Bukan hanya 5%.. Tapi kamu masih mempunyai 5% kan..” Ucap Will. Secara tidak langsung dia ingin memberi motivasi pada gadis muda itu.

Michelle senang mendengar ucapan Will, paling tidak ada yang menghibur hatinya saat ini.

“Umur loe berapa?” Tanya Will.

“17.. kenapa?” Tanya Michelle penasaran.

Will agak terkejut mendengar jawaban Michelle, “Waktu gue ketemua loe di toko kaset sekitar jam 10 pagi, seharusnya jam segitu loe ada di sekolah kan?” Tanyanya.

Michelle mengerti maksud Will, “Hmm.. memang seharusnya begitu. Tapi bagaimana gue bisa sekolah kalau setiap hari gue harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri?”

“Jadi, setelah loe kabur, loe ngga tinggal sama sauadra atau siapa gitu?” Tanya Will lagi.

“Ngga, gue ngga punya siapa-siapa selain nyokap bokap gue. Gue ngga kenal siapa pun yang bisa menolong gue. Setelah kabur dari rumah, gue berusaha mati-matian melanjutkan hidup sendirian. Setahun sebelum gue dapet kerja tetap dan bisa nyewa kontrakan, gue tidur di mana aja. Gue kerja apa aja. Dan suatu hari ketika semuanya terlalu berat, gue hampir..” Michelle menahan kata-katanya.

Will menunggu kata-kata selanjutnya, dia memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik. Dia bisa melihat kedua bola mata Michelle berkaca-kaca.

Michelle menyibakan poninya yang menutupi wajah, lalu memandang Will dengan wajah tegarnya. “Gue hampir tergoda untuk menjadi pelacur. Karena gua ngga bisa ngelakuin apapun selain menjual diri.”

Will tampak tak percaya, dia memandang Michelle dari atas kebawah. “Maksud loe, loe udah ngga....” Dia tak melanjutkan ucapannya.

“Tentu aja masih!” Seru Michelle, “Gue bilang HAMPIR!!”

Will lega mendengar itu, dia kembali diam dan mendengarkan.

“Tapi ingatan tentang almarhum nyokap menyadarkan gue. Kalau gue masih punya tangan, gue masih punya kaki.. So, gue bisa berusaha dengan cara yang baik. Gue ngga mau suatu saat orang-orang ingat tentang gue sebagai pelacur yang udah menghancurkan rumah tangganya, atau lebih buruk dari itu. dengan usaha gue, akhirnya gue dapet pekerjaan di toko kaset itu..” Cerita Michelle, sekaligus mengklarifikasi ucapannya tadi.

Will mengangguk mengerti. Dia memandang Michelle kagum, tak menyangka gadis semuda itu telah mengalami hidup seberat itu. sedangkan dia tidak pernah merasa menderita seumur hidupnya. “Loe tau, sekarang umur loe masih 17. Tapi loe udah ngalamin hal yang seharusnya loe rasain mungkin setelah umur 25. Gue salut loe bisa melewati ini semua.”

Michelle tersenyum tipis. Tak tau harus tersanjung atau sedih manyadari kehidupannya yang menyedihkan.

“Loe tau, sejak lahir. Gue ngga pernah kekurangan apapun. Dan gue bukan orang yang selalu meminta pada orang tua walaupun gue bisa. Sejak kecil nenek gue selalu mengajarkan untuk berusaha sendiri, tapi sekeras apapun gue berusaha, gue tetep aja menggunakan apa yang udah ortu gue kasih. Tapi gue ngga pernah ngerasa semua itu salah, karena gue anak mereka dan wajar mereka memenuhi kebutuhan gue. Teman-teman gue juga ngelakuin itu, jadi kenapa gua ngga? Tapi, setelah gue ketemu loe. Walaupun kondisi gue bukan sebagai orang hidup, gue ngerasa malu banget! Gue malu pada diri gue sendiri. Bulan depan gue pas 19 tahun, tapi apa yang idah gue perbuat untuk diri gue sendiri? Ngga ada! Sedangkan loe yang lebih muda dari gue udah bisa menghidupi diri loe sendiri..” sorot mata Will menunjukkan dia benar-benar rasa salutnya.

Michelle memandang Will sejenak. Lalu dia berkata, “Pernah suatu hari, sehari sebelum gue kabur dari rumah, gue mikir. Kenapa gue ngga terlahir sebagai anak orang kaya yang mempunyai segalanya, kenapa gue ngga terlahir dikeluarga harmonis yang saling menyayangi. Gue nangis sepanjang malam sampai mata gue bengkak. Tapi gue ngga pernah mendapatkan jawaban itu. setelah gue mengalami hal yang lebih berat dari itu, gue baru mendapatkan jawabannya...” dia diam sejenak menunggu tanggapan Will.

“Apa?” tanya Will.

“Gue ngga terlahir sebagai anak orang kaya bukan karena gue ditakdirkan miskin. Gue ngga terlahir dikeluarga yang harmonis bukan karena gue mempunyai ayah yang kasar. Tapi karena gue diberi pelajaran tentang hidup yang sesungguhnya. Dimana gue harus berkerja keras untuk memperbaiki hidup gue agar tidak terjadi lagi untuk keluarga gue nanti.. gue bisa belajar bagaimana caranya menjalani hidup yang keras sebelum gue tiba-tiba menemui itu..” Ucap Michelle dengan senyum optimisnya.

Will benar-benar tak menyangka kata-kata sedewasa itu akan keluar dari bibir mungil gadis itu. “Michelle, loe bisa nebak apa yang gue pikirin?”

Dahi Michelle berkerut, “Gimana gue bisa? Gue bukan peramal..”

Will tersenyum tipis, “Gue mikir.. Kalau aja sekarang kita mengobrol dalam keadaan normal..”

Michelle hanya diam, dia memalingkan wajahnya memandang hujan. Sebenarnya dia ingin menyembunyikan matanya yang mulai berair. Belum ada orang yang benar-benar menghargai keberadaan dirinya setelah ibunya meninggal.

“Dan Michelle..” Panggil Will.

“Hmm..” Gumam Michelle tanpa memandang Will.

“Gue berharap, loe akan hidup bahagia. Benar-benar bahagia. ngga perlu lagi lari dari apapun. Dan suatu hari nanti loe akan meninggal dengan senyuman diwajah loe di kasur yang hangat, dikelilingi orang-orang yang menyayangi loe.” Ucap Will lembut.

Michelle menghela nafasnya yang mulai berat, air mata menitik satu persatu. Namun dia segera menghapusnya, tak ingin Will menyadarinya.

Meskipun Michelle mencoba menyembunyikan wajahnya, Will dapat merasakan apa yang dirasakan oleh gadis manis itu. tangannya bergerak menyentuh rambut gadis itu. Berusaha untuk membelainya, tapi dia tak bisa menyentuh gadis itu. semua ini membuatnya hampir gila. Menjadi hantu yang bergentayangan mencari tubuhnya, itu akan menarik jika berada di sebuah film. Tapi dia tak senang jika mengalaminya. Dia memikirkan pembicaraan lain untuk melewati suasana, dan dia teringat ucapan pria tadi ditelpon. “Michelle, apa menurut loe, yang dimaksud orang tadi dengan ‘anak itu’. itu gue?”

Michelle membersihkan sisa air mata dan memandang Will, “Gue rasa. Karena apa mereka akan menyulik banyak anak dalam waktu yang bersamaan?”

“Gue rasa juga begitu. Tapi, lubang apa yang mereka maksud?” Tanya Will.

Michelle berpikir sebentar, “Gue ngga begitu tau. Tapi gue rasa gue tau dimana tebing yang dia bicarain...”

“So, besok loe mau nyoba ke jurang itu?” Tanya Will.

“Hmm.. sepertinya..” Ucap Michelle.

Will cukup puas mendengar ucapan Michelle. Dan pembicaraan selesai.

***

“Loe yakin mau ke gedung itu lagi?” Tanya Will ketika dia dan Michelle mengendap-endap dibalik sebuah pohon sambil memperhatikan gedung kemarin.

“Iya, karena kita ngga tau apa tubuh loe udah dipindahin atau belum sama mereka.” Ucap Michelle sambil memperhatikan gedung itu.

Didepan gedung berdiri dua orang pria bertubuh besar dengan baju serba hitam disebelah sebuah mobil yang juga berwarna hitam. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu yang penting. Dari jauh Michelle bisa mengenali salah seorang pria yang berdiri disana adalah pria yang hampir menangkap dan menembaknya kemarin. Dia harus lebih berhati-hati. Tiba-tiba mata pria kemarin itu menyapu pepohonan dan tampak terkejut melihat pohon tempatnya bersembunyi, jantung Michelle sempat berdegup kencang. Dia takut jika ketahuan. Tapi ternyata pria itu tampak tidak curiga, dia melanjutkan pembicaraan. Beberapa saat kemudian, pria yang kemarin pergi meninggalkan temannya. Lama Michelle menunggu pria kedua ikut pergi, hingga dia bisa kembali menyelinap kedalam gedung.

“Michelle...” Panggil Will sambil memandangi kedua tangannya.

Michelle memandang Will, matanya langsung melotot melihat tubuh Will yang mulai menghilang. “Will, loe kenapa?”  Bisiknya panik.

Will menggeleng, “Ngga tau, gue bener-bener ngga tau.. kenapa bisa gini??” semakin lama tubuh Will menghilang hingga tak ada yang tersisa.

“Will? Will!!” Panggil Michelle. Tapi Will tak pernah muncul kembali, dia memandang kesekeliling. Namun ketika memandang kebelakang, betapa terkejutnya dia ketika menyadari pria yang kemarin sudah berdiri dibelakangnya.

“Apa kabar nona?” ucap pria itu sambil tersenyum sinis.

Michelle berbalik dan mencoba kabur, tapi pria itu dengan cepat menarik lengan dan menjambak rambutnya. Dia tak bisa berkutik lagi.

“Mau kemana nona manis? Apa loe ngga mau main sama gue dulu?” Tanya Pria itu sambil tertawa.

“Lepasin! Awww!!! Sakit!” jeritnya ketika pria itu menarik rambutnya terlalu keras.

Pria kedua muncul dari balik pohon, “Jangan buang-buang waktu, bawa dia dan masukkan ketempat bocah ingusan kemarin! Kita ngga mungkin ngelepasin dia!”

“Ayo ikut!!” Seru pria tadi sambil menyeret tubuh Michelle kedalam gedung.

“AAWW!! Sakit!!” Michelle terus memberontak, tapi semakin dia berontak, pria itu semakin erat memegang lengannya. Akhirnya dia tak bisa melakukan apapun selain mengikuti dua pria itu.

“Langsung aja bawa dia ke tempat anak itu!!” Perintah pria kedua.

Maksudnya Will? Batin Michelle.

“Baik bos..” Ucap pria tadi.

Michelle malah tak sabar ingin segera bertemu dengan tubuh Will, meskipun dia masih tak mengerti mengapa tiba-tiba arwah Will menghilang. Dia berpura-pura memberontak agar mereka tak ragu untuk membawanya ketempat tubuh Will. Tapi hal itu malah membuat tasnya terjatuh, dan..

PLAKKK!!! Pria besar itu menampar Michelle hingga sudut bibirnya pecah dan menyeluarkan darah. Gadis itu tak bisa memberontak lagi. Semuanya terasa seperti berputar.

Pria itu membawa Michelle melewati hutan-hutan di sebelah gedung. Tak lama kemudian pria itu berhenti dan meraba-raba tanah yang ditutupi dedaunan kering, lalu dia menarik sesuatu yang ternyata pintu rahasia. Dengan satu tangan dia mendorong tubuh Michelle kedalam lubang dibalik pintu itu.

DUAAKK!! Tubuh Michelle membentur permukaan keras. Tubuhnya terasa remuk. Sepertinya jarak dari dasar lubang ini dengan permukaannya sangat jauh. Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya untuk beberapa saat, dia hanya bisa terbaring kaku dipermukaan curam dan dingin itu. semuanya gelap, apalagi setelah pria itu menutup pintu tadi dengan keras. Tapi setelah beberapa saat, ternyata tak segelap awalnya, dia hanya perlu membiarkan pupil matanya terbiasa dengan gelap. Dan semuanya terlihat jelas walaupun seperti melihat dalam ruangan berlampu 5 watt. Setelah memastikan tak ada tubuhnya yang patah, dia perlahan bergerak bangkit. Ketika melihat kesamping kanan, dia melihat sesosok tubuh tergelak tak bergerak.

“Will??!!!” dia berusaha secepat mungkin untuk mendekati tubuh Will.

Kondisi Will sangat memperhatinkan, terdapat beberapa lebam diwajahnya. Tubuh altletis yang terbalut sweater abu-abu itu terkuali lemah tak berdaya. Dia benar-benar tak tega melihat kondisi cowok itu. dia membuka penutup matanya perlahan, tak ada respon dari Will. Tiba-tiba terdengar langkah besar dari atas, dan pintu diatas kepalanya terbuka. Dia segera berbaring dan berpura-pura pingsan. Ketika itu dia baru menyadari kalau ada sebuah tangga yang menempel di dinding. Terdengar suara dua orang pria yang saling berkomunikasi, setelah itu seorang dari mereka turun.

Jantungnya berdegap kencang, berharap tak terjadi apa-apa pada dirinya. Dia merasakan langkah besar melewati pinggangnya. Dia mengintip dari celah matanya, pria itu mengangkat tubuh Will dengan susah payah.

“Duhh.. kayaknya mati beneran nih bocah!” Ucap pria itu pada temannya setengah berteriak.

“Biarin aja! Kan lebih gampang ngebuangnya..” Ucap pria yang diatas lubang santai.

“Serius loe? Trus, nih cewek mau diapain?” Tanya pria pertama tadi lagi.

“Udah, ngga usah dipikirin. Biarin aja dia membusuk disini...” Ucap pria kedua, lalu melemparkan seutas tali kebawah.

Pria pertama mengikatkan tubuh Will pada tali dan membiarkannya naik keatas, lalu dia naik melalui tangga. Tak lama kemudian terdengar bantingan pintu dan semua kembali gelap.

Michelle membuka matanya perlahan, dia segera bangkit dan meraba-raba mencari tangga tadi. Dengan hati-hati dia memanjat tangga. setelah tiba di puncak tangga, dia berusaha membuka pintu dengan kepala dan sebelah tangan. Bersyukur pintu itu tidak dikunci atau di tahan oleh apapun. Dia segera keluar dari lubang dengan hati-hati. Ketika itu dia baru menyadari tangan dan kakinya lecet di beberapa tempat. Setelah memastikan lingkungan aman, dia melangkah cepat keluar dari hutan. Will pasti sudah dibawa ke jurang itu, tapi dia tak mungkin datang kesana dengan tangan kosong. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke gedung tua itu untuk mengambil tas, itu pun jika para pria itu tidak membuang tasnya. Dia melangkah perlahan menuju gedung tua sambil menahan sakit dri kakinya. Dia bersembunyi dibalik sebuah pohon sambil memperhatikan keadaan gedung, tak terlihat ada orang disana. Sepertinya kedua orang tadi tidak ada, dia segera melangkah masuk ke gedung dan mencari tasnya. Ternyata tas berwarna hitam itu masih berada di tempat ketika dia jatuh. Dengan cepat dia membuka tas dan mengluarkan pistol serta handphone Will. Sambil melirik kanan dan kiri dia memasukkan handphone Will ke saku celana, lalu berjalan keluar dengan memegang pistol. Meskipun tak pernah menggunakannya, tapi dia sudah biasa melihat dalam adegan di film. Paling tidak dia tahu bagaimana cara untuk menggunakannya.

Dia menelusuri hutan sambil tetap was-was. Dengan sigap dia segera bersembunyi di balik sebuah pohon ketika melihat dua orang pria besar tadi diujung jalan.

“Si bos aneh banget! Ngapain ngebiarin tuh bocah disana. Tinggal di lempar ke jurang kan beres, gak ada bukti lagi kalau kita yang udah nyulik dia.” Ucap Seorang pria ketika berlalu.

“Iya, kalau gini ceritanya keburu ketangkep kita..” Ucap yang satu lagi.

Michelle lega mendengar itu, berarti tubuh Will belum dibuang kejurang, dia harus bergerak cepat agar tidak terlambat. Dia segera menyelinap diantara pohon menuju pinggir jurang. Jurang itu sangat dalam, jika terjatuh kedalam mungkin akan langsung mati. Dari kejauhan dia bisa melihat tubuh Will yang tergeletak beberapa inci dari pinggir jurang. Disana hanya 1 orang yang berdiri memandang kearah langit-langit jurang, pria bertubuh atletis itu terlihat sangat tenang sambil memasukkan kedua tangannya disaku. Dari belakang pria itu terlihat familiar dimatanya. Dia menggenggam erat pistol sambil berjalan mendekati pria itu.

“Kenapa loe nyulik Will??” Tanya Michelle pelan.

Cowok itu tak terlihat kaget mendengar suara Michelle. Dia berbalik pelan dan memandang gadis itu.

Michelle terkejut melihat pria itu. pria yang tak asing dimatanya. Kevin, bosnya di toko kaset. Dia memandang cowok itu tak percaya, “Kevin?”

Kevin tersenyum, “Hei Michelle, datang untuk melihat-lihat?”

Michelle benar-benar tak percaya Kevin ada dibalik penculikan Will, seseorang yang menurutnya ramah dan hangat. “Kevin, loe bos orang-orang itu??”

Kevin tersenyum bangga, seperti seorang anak kecil yang baru saja menjuarai sebuah perlombaan. “Ya.. keren kan..”  nada bicaranya masih seperti biasa, sangat akrab dan suka membuat beberapa lelucon.

“Tapi kenapa?” Tanya Michelle.

Kevin mengeluarkan kedua tangannya dari saku dan melipatny didada, “Hmm.. tentu ada alasan kan..”

“Apa alasannya? Kenapa loe nyulik Will? Salah dia apa?” Tanya Michelle lagi.

Kevin memandang Michelle lembut, “Michelle, terkadang kita harus berpura-pura tidak tau agar selamat.. Loe ngerti kan maksud gue?”

Michelle mengerti, Kevin memeintanya untuk tetap diam dan tidak ikut campur. Dia memandang tubuh Will.

“Michelle, loe udah masuk terlalu dalam. Jadi gue mohon jangan melangkah lagi, segera mundur dan hidup seperti biasa. Loe tau, gue ngga bisa ngeliat cewek manis kayak loe terluka..”

“Kevin, gue datang kesini untuk membawa tubuh Will!!” Seru Michelle.

Kevin tak terkejut, malah terlihat kagum. “Wow, loe tau namanya..”

“Kevin, berhenti bercanda! Loe harus bawa Will pulang! Loe tau kan betapa besarnya berita tentang penculikan Will! Apalagi loe udah ngebunuh dia..” Ucap Michelle.

Kevin memandang Will, “Sepertinya loe ngga akan ngebiarin semua ini berlalu begitu aja..” dia melirik Michelle, “Ya kan?”

“tentu aja! Loe bisa dipenjara karena udah ngebunuh orang!!” seru Michelle.

Kevin tertawa kecil, “Ya, memang.. gue pasti di penjara lama banget karena udah ngebunuh orang dengan sengaja. Tapi itu kan kalau ada yang tau gue dalangnya, kalau ngga ada? Gue bebas kan?”

Jantung Michelle berdegup kencang, perasaannya mulai tidak enak. Kevin sudah mengancamnya. Dia memperat genggamannya pada pistol.

Perlahan Kevin melepas lipatan tangannya, tangan kanannya bergerak mengambil sesuatu dibalik bajunya. Ternyata senjata api laras pendek dengan peredam suara.

Michelle segera mengcungkan senjatanya kearah Kevin sebelum kalah langkah.

Mata Kevin membesar kagum, “Wow! Reflek yang bagus.. Loe bisa masuk ke kelompok penembak pribadi gue kalau loe mau..”

“Kevin! Gue ngga tau apa alasan loe menculik Will, tapi apa yang loe lakuin ini salah!!” Ucap Michelle berusaha menyadarkan Kevin.

“Loe mau tau alasannya?” Kevin memandang langit dan menjawab sebelum Michelle bicara. “Karena gue juga anak dari seorang pengusaha Jonathan Kim! Seharusnya nama gue adalah Kevin Kim..”

Dahi Michelle berkerut, “Apa??!”

“Dan loe tau semuanya.. Gue anak dari dari bokap sebelum dia nikah dengan nyokapnya. Dan loe tau, gue sama nyokap gue dibuang gitu aja sama dia. Setelah itu nyokap gue bunuh diri, dan tinggal gue yang harus hidup sendiri ditengah cacian dan makian orang-orang. Hingga akhirnya gue berhasil ngebuka toko kaset. Hidup gue mulai teratur...” Cerita Kevin.

Semuanya mulai terlihat terang bagi Michelle, “Jadi karena itu loe dengan gampang nerima gue untuk kerja di toko loe? Karena nasib kita sama??!!”

“Yup! Betul banget! Baik banget kan gue, woow..” Kevin tertawa manis. Pasti tak akan ada yang menyangka disa telah melakukan semua ini jika melihat wajahnya.

“Tapi Kevin, apa gunanya loe ngebunuh Will? Dia ngga tau apa-apa.” Ucap Michelle.

“Will memang ngga tau apa-apa.. Tapi bokapnya kan tau, so gue mau bikin bokapnya, atau bokep gue, ngerasain gimana harapannya hancur seketika!” ucap kevin.

Air mata Michelle menetes, dia dapat merasakan kepedihan yg dirasakan Kevin meskipun dia memamerkan senyum manisnya. “Kevin, sekarang udah selesai kan? Ngga ada gunanya loe buang Will kejurang..”

Kevin tertawa kecil, “Jadi loe belum ngerti?”

Michelle memandang Kevin tak mengerti.

“Will belum mati!” Ucap Kevin santai.

Michelle terkejut, “Hah?!!” dia memandang tubuh Will, terlihat seperti mayat.

“Dan Michelle, gue rasa loe mau mati disini sama adek TIRI gue..” Kevin mengangkat pistolnya dan menarik pelatuknya.

Disaat yang bersamaan Michelle juga melakukan hal yang sama.

Dor!!! Terdengar letusan besar, dari kedua pistol.

“Ahkkk!!!” Michelle memegang perut sebelah kirinya yang tertembus peluru, darah mengalir deras dari luka itu.

“Ahkkk!!!” Kevin tak sempat memegang bahunya ketika dorongan peluru dari pistol Michelle mendorong tubuhnya kebelakang, dia tak mampu melawan gravitasi bumi hingga terjatuh ke jurang.

Michelle terjerembab ketanah, perutnya terasa sangat nyeri. Dia menyeret tubuhnya mendekati Will. Dengan tangan berlumuran darah dia memegang dada Will, ternyata benar jantungnya masih berdetak walaupun lemah. Nafasnya mulai terengah-engah, darah dari perutnya mengalir seperti mata air. Kakinya mulai mati rasa. Dia segera mengeluarkan handphone Will dan mengaktifkannya sebelum dia kehilangan kesadarannya, dia mencari dikontak panggilan. Akhirnya dia menemukan kontak ibu Will. Segera dia memanggil kontak itu.

“Hallo! Will! Kamu dimana?” Ucap suara perempuan diseberang sana.

Michelle mengumpulkan semua suaranya yang tersisa, “Will sekarat.. segera datang!” dia meletakkan handphone Will di tanah, suaranya tak sanggup keluar lagi. Mereka tentu bisa menemukan Will melalui GPS dari handphone Will. Dia berbaring disebelah tubuh Will sambil menahan darah yang terus keluar dari perutnya. Dia memandang wajah Will yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Dia tak takut mati, juga tidak marah ini harus terjadi. Dia senang bisa membantu Will, pria yang dalam beberapa jam dapat mencuri hatinya.

***

Semuanya terasa tenang. Perlahan terdengar sedikit kebisingan yang tak mengganggu. Udara segar terus mengalir dihidungnya. Nahkan dia bisa mendengarkan denyut jantungnya sendiri, sekelebat cahaya menerobos kecelah matanya. Michelle membuka matanya perlahan, pandangannya buram. Terlihat seorang pria yang mendekat kesisinya, tapi dia tak tau itu siapa. Terdengar pria itu berbicara, tapi tak terdengar jelas. Beberapa saat kemudian, semua indranya sudah berfungsi baik. Dia dapat melihat dengan jelas bahwa pria itu adalah ayahnya.

“Michelle, kamu udah ngga apa-apa?” Ucap ayah Michelle cemas.

Michelle tak percaya meilhat ayahnya berbicara selembut itu padanya, dia mencoba untuk memberontak. Tapi dia tak bisa banyak bergerak karena nyeri diperutnya. Ketika itu dia menyadari dia berada di rumah sakit.

“Michelle! Tenang! Papa tau kamu masih marah sama papa.. tapi papa datang kesini untuk meminta maaf atas segalanya. Papa berusaha untuk mencari kamu setelah kamu kabur dari rumah, tapi baru beberapa bulan lalu papa mengertahui dimana kamu bekerja. Papa mencari kamu ketempat kamu kerja, ditoko kaset itu. bos kamu memberi tahu papa alamat kontrakan kamu. Tapi kamu malah kabur lagi ketika papa datang.. Papa mohon, maafin papa. Papa benar-benar menyesal..” Ucap ayah Michelle dengan linangan air mata.

Michelle teringat ucapan Will ketika mereka istirahat dibawah jembatan. Air matanya mengalir mengingat itu. tapi, dimana Will? “Will mana?” tanyanya pelan.

Dahi ayah Michelle berkerut, “Will? Cowok yang sama kamu di dekat jurang itu? dia ada di ruang ICU juga. Dua atau tiga kamar dari sini...”

Michelle lega mendengar ucapan ayahnya, berarti Will masih hidup. Dia meraba perut sebelah kirinya. Masih teringat betapa sakitnya ketika peluru dari senjata api Kevin menembusnya, dia memandang ayahnya, “Kevin?”

Ayah Michelle tampak enggan menjawab, lalu menggeleng pelan. Menandakan Kevin tidak selamat dari ketinggian tebing itu.

Michelle sedih mendengar itu. Kevin memiliki nasib yang sama dengannya.

Ayah Michelle memegang punggung tangan putrinya, “Michelle, papa ngga mau kamu hidup sepreti ini lagi. Kamu mau kembali pulang bersama papa? Mama kamu khawatir sekali dengan kamu, dia tidak pernah sekali pun melupakan kalau kamu tidak ada dirumah..”

Mama? Michelle menarik tangannya, “Maksud papa tante Regina?”

Ayah Michelle mengangguk pelan, dia kembali mendapat tatapan tajam dari putri semata wayangnya.

Michelle memalingkan wajahnya, dia masih belum bisa menerima perlakuan ayahnya setelah adik tirinya lahir. “Ngga perlu! Aku bisa mengurus hidup aku sendiri! Papa bisa urus anak baru papa itu!”  ucapnya ketus.

“Michelle?!” ayah Michelle menatap Michelle, “Itu adik kamu, namanya Amara..”

“Aku ngga peeduli!!” Air mata Michelle mulai mengalir dari sudut matanya.

Ayah Michelle mengerti alasan perlakuan putrinya itu, “Papa ngerti kalau kamu kecewa, tapi kamu ngga pernah tau kan apa yang udah papa dan mama kamu alami setelah...”

“Dia bukan MAMA AKU!!” Potong Michelle.

“Oke! Tante Regina!” Ucap ayahnya memperbaiki, “.. setelah kamu kabur dari rumah..” lanjutnya, “Tante Regina sangat sedih dan merasa bersalah. Dia menangis setiap hari. Dia yang meminta papa untuk terus mencari kamu. Bahkan dia tidak memperhatikan anaknya sendiri!! Amara mulai sakit-sakitan ketika memasuki 1 tahun karena tante Regina selalu stress memikirkan kamu! Dua bulan  kemudian Amara meninggal!!!”

Michelle terkejut, dia memandang ayahnya tak percaya. “Apa?!”

Air mata ayah Michelle mulai menitik, “Iya Michelle, Amara meninggal dunia! Apa kamu tidak bisa melihat itu sebagai bukti kalau kami memang menginginkan kamu kembali? Papa mohon Michelle...”

Michelle merasa bersalah. Semua pikiran buruknya selama masa pelarian, membuatnya penuh dengan kebencian pada wanita yang dia pikir adalah perusak kehidupannya. Dia tak menyangka kenyataan yang terjadi seperti ini. Jadi selama ini yang tersiksa bukan hanya dirinya, juga ayah dan ibu tirinya.

“Michelle, Papa dan tante Regina benar-benar ingin kamu kembali. Apa kamu tidak bisa memaafkan kami?” Tanya ayah Michelle.

“Pa..” Panggil Michelle pelan dalam isak tangisnya.

“Iya sayang..” ucap ayahnya lembut.

“Aku..” Michelle tercekik oleh kata-katanya sendiri, “Aku.. mau ketemu tante Regina...”

Ayahnya tersenyum senang mendengar ucapan Michelle sambil mengelus rambut putrinya, “Benar sayang?”

Michelle mengangguk, “Iya, Pa.. aku mau minta maaf untuk kepergian Amara, juga karena aku selalu memanggil dia tante..”

Ayahnya mengecup dahinya, “Iya sayang, kita akan segera ketemu tante Regina...”

Michelle tak menyangka ayahnya akan berkata seperti ini, “Maafin aku pa.. aku udah bikin papa susah..”

“Ngga apa-apa sayang, yang penting sekarang kamu udah baik-baik aja. Itu yang terpenting!” Ucap ayah Michelle.

Dan inilah kenyataan. Tak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan. Michelle kembali kepada keluarganya. Dia mendapat sambutan hangat dari ibu tirinya, Regina. Ternyata ibu tirinya sangat penyayang seperti ibu kandungnya. Dia bahagia menjalani kehidupannya yang baru. Namun ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia tak sempat menemui Will ketika pulang dari rumah sakit, karena tanpa dia ketahui keluarga cowok bertubuh atletis itu membawanya keluar negeri untuk menjalani operasi patah tulang. Entah kapan dia bisa bertemu cowok itu secara hidup, tapi dia sudah merasa senang telah membantunya.

***

“Michelle, ayo.. dagingnya udah masak nih..” Panggil Regina dari pekarangan rumah dengan senyum ramah yang tak pernah disadari Michelle.

Michelle yang duduk diteras rumah mengangguk dan segera menghampiri ayah dan ibu tirinya. Mereka mengadakan pesta BBQ kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan dirinya kerumah meskipun sudah lewat sebulan. Dia melangkah perlahan menuju perkarangan sambil memegangi perut sebelah kirinya yang maish nyeri.

Regina menghampiri Michelle dan membantunya berjalan, “Hati-hati sayang.. Nanti lukanya berdarah lagi..”

Michelle tersenyum, “Iya,Ma..”

Regina memandang Michelle senang. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Mama kok nangis?” Tanya Michelle bingung.

Regina tersenyum sambil menggeleng, “Mama ngga nangis sayang, mama Cuma senang karena kamu manggil ‘MAMA’” ucapnya terharu.

Michelle merasa sangat bersalah telah melukai hati wanita yang sangat lembut ini. Dia duduk dikursi disebelah Regina.

“Nahh.. ini dagingnya udah matang..” Ayah Michelle meletakkan sepiring besar daging-danging yang sudah dia panggang.

“Wahh.. sausnya mana nih?” Tanya Regina heran.

“Yahh.. masih dirumah, papa ambil dulu ya..” Ucap ayah Michelle.

“Eh.. ngga usah pa, biar aku aja..” Ucap Michelle sambil berdiri perlahan.

“Yakin sayang? Kamu kan masih sakit..” Ucap Regina cemas.

“Ngga apa-apa ma.. aku ambil dulu ya..” Michelle melangkah menuju pintu masuk.

Ketika itu sebuah mobil berhenti didepan jalan masuk rumah Michelle. Dia, Regina dan Ayahnya serentak memandang kearah mobil itu dengan tatapan penasaran.

“Siapa ya?” Gumam Regina.

Pintu penumpang mobil berwarna hitam itu terbuka, turun seorang cowok memakai sweater coklat. Cowok itu bermata indah dan wajah bercahaya. Dia memandang Michelle dengan senyum manisnya, “Michelle..”

Michelle tak percaya dengan matanya sendiri, dia hanya bisa menatap cowok itu tanpa bergerak. Air matanya menetes tanpa dia sadari, “Will?” ucapnya pelan.

Will melangkah cepat kearah Michelle. Dia memendang rindu yang sangat besar hingga tak mampu di bendungnya sendiri.

Michelle melakukan hal yang sama. Beberapa saat kemudian dia sudah terbenam dalam pelukan Will. Air matanya tak bisa berhenti mengalir.

Will memegang kedua pipi Michelle, matanya memperhatikan setiap sudut diwajah gadis itu. “Gue ngga percaya sekarang gue bener-bener nyentuh loe..” ibu jarinya menghapus air mata dipipi Michelle dengan lembut.

Michelle memandang kedua bola mata Will, “Gue kira loe ngga inget sama gue..”

“Ngga mungkin gue ngga inget sama orang yang sangat berarti dihidup gue.. Dan sekarang gue ngga mau ngelepasin orang itu lagi..” Jawab Will.

Michelle tak bisa menahan air mata bahagia dimatanya. Will memeluknya erat hingga dia dapat mendengar denyut jantungnya.

Regina dan ayah Michelle bahagia melihat Michelle tersenyum dalam airmatanya. Tak ada yang sangat indah kecuali melihat kebahagian Michelle.

The End!!


semoga bermanfaat info cerpen cinta ini
Selengkapnya ►